Kamis, 18 Februari 2016

Uji Asumsi Klasik



Uji asumsi klasik dilakukan sebagai syarat untuk penelitian yang akan mengunakan analisis regresi berganda (multiple regression). Uji asumsi klasik terdiri dari 5 pengujian yaitu uji heteroskedastisitas, uji multikolinearitas, uji auto korelasi, uji linearitas, dan uji normalitas. Dalam penelitian cross section atau one shot, uji auto korelasi tidak perlu dilakukan. Jadi penelitian ini hanya melakukan 4 macam uji asumsu klasik. Berikut penjelasan dari masing-masing pengujian yang akan dilakukan dalam penelitian ini:
1. Uji Heteroskedastisitas
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui adanya ketidaksamaan varian dari residual untuk semua pengamatan pada model regresi. Salah satu cara mengujinya yaitu dengan cara melihat pola penyebaran titik-titik data. Bila titik-titik tidak membentuk pola yang jelas dan menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas. Sebuah penelitian tidak boleh terjadi heteroskedastisitas karena apabila terjadi heteroskedastisitas, maka setiap terjadi perubahan pada variabel terikat mengakibatkan errornya (residual) juga berubah (Gujarati, 2004).
2. Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas dilakukan untuk melihat ada atau tidaknya korelasi yang tinggi antara variabel-variabel bebas (independen) dalam suatu model regresi linear berganda (multiple regression). Jika ada korelasi yang tinggi di antara variabel-variabel bebasnya, maka hubungan antara variabel bebas terhadap variabel terikatnya (dependen) menjadi terganggu. Alat statistic yang digunakan untuk menguji gangguan multikolinearitas adalah dengan variance inflation factor (VIF), korelasi Pearson antara variabel bebas, atau dengan melihat eigenvalues dan condition index (CI) (Gujarati, 2004).
3.  Uji Normalitas
Bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel terikat dan variabel bebas, keduanya mempunyai distribusi normal ataukah tidak. Metode yang digunakan adalah dengan melihat grafik normalitas probability plot yang membandingkan distribusi kumulatif dari data sesungguhnya dengan distribusi kumulatif dari distribusi normal. Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah populasi data berdistribusi normal atau tidak menurut Dwi Priyatno (2004:28). Uji ini digunakan untuk mengukur data berskala ordinal, interval, ataupun rasio. Analisis yang digunakan metode parametric, maka persyaratan harus terpenuhi yaitu distribusinormal.
4.  Regresi Linear Berganda
Analisis ini bertujuan untuk mengetahui arah hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen apakah masing-masing variabel independen mengalami kenaikan atau penurunan. Menurut Riduwan (2013:154) “Analisis regresi berganda adalah pengembangan dari analisis regresi sederhana. Kegunaanya untuk meramalkan nilai variabel terikat (Y) apabila variabel bebas minimal dua atau lebih”.
5.   Uji Koefisien Korelasi
Untuk mengetahui besarnya koefisien antara variabel independen, maka penelitian ini juga menggunakan koefisien korelasi Pearson yang diolah variabel independen dan hubungan variabel independen, maka dapat dinyatakan dengan fungsi linear (paling tidak mendekati) dan diukur dengan satuan nilai yang disebut koefisien korelasi. Menurut Supranto (2000:152) nilai koefisien korelasi adalah sebagai berikut:
“Nilai koefisien korelasi ini paling sedikit -1 dan paling besar 1, jadi jika r= koefisien korelasi maka nilai r dapat dinyatakan sebagai berikut: -1≤ r ≤ 1 Artinya:
1. Jika r=1, hubungan X dan Y sempurna positif (mendekati 1, yaitu hubungan sangat kuat dan positif). Korelasi positif artinya hubungan antar variabel independen dengan variabel dependen bersifat searah. Dengan kata lain peningkatan atau penurunan niali X terjadi bersama-sama dengan kenaikan atau penurunan nilai Y.
2. Jika r=-1, atau mendekati -1 hubungan X dan Y sempurna negative artinya hubungan antar variabel independen dengan dependen bersifat berlawanan. Dengan kata lain peningkatan nialia X terjadi bersama-sama dengan penurunan niali Y atau sebaliknya.
3. Jika r=0, hubungan X dan Y lemah sekali atau tidak ada variabel dependen dikatakan dengan sangat lemah atau tidak ada sama sekali. Dengan kata lain hubunngan antara variabel X denga  variabel Y sangat lemah dan tidak terdapat hubungan sama sekali.
6.  Uji Koefisien Determinasi
Koefisien Determinasi (R²) adalah perbandingan antara Variabel independen dan variabel dependen yang dijelaskan oleh variabel independen secara bersma-sama dibanding dengan variasi total. Menurut Ghozali (2005) untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variabel independen. Nilai dependen dan sebaliknya semakin mendekati nol berarti semakin buruk hasil regresinya, karena variabel independen secara keseluruhan tidak mampu menjelaskan variabel dependen.
Rumus yang digunakan kd=r²x100%

Uji Validitas dan Uji Reabilitas



    Uji Validitas
Analisis validitas dilakukan melalui analisis item untuk menguji apakah item-item yang ada didalam kuesioner layak untuk diikut sertakan dalam analisis selanjutnya. Uji validitas dilakukan dengan mengukur kolerasi antara variabel/item dengan skor total variabel. Kelayakan item ini dapat dilihat melalaui kosistensi jawaban setiap item tersebut terdapat keseluruhan item yang lain. Untuk melihat konsistensi item terdapat keseluruhan item yang lain dapat dilakukan salahsatunya dengan melihat daya pembela item. Dengan mengkorelasikan skor item dengan skor keseluruhan, maka dapat dilihat nilai korelasinya. Sugiama (2008:197) mengatakan uji validitas digunakan untuk menguji tingkat validitas atau kesahihan alat ukur atau pertanyaan dalam angket, apakah alat ukur tersebut benar-benar dapat mengukur apa yang ingin diukur atau tidak. Suatu angket yang sah adalah pertanyaan yang mampu mengungkap sesuatu yang ingin diukur dalam penelitian tersebut.
Menurut Riduwan (2013:109-110) mengenai uji validitas adalah sebagai berikut: Untuk menguji validitas alat ukur, terlebih dahulu dicari harga kolereasi antara bagian-bagian dari alat ukur secara keseluruhan dengan cara mengkolerasikan setiap butir alat ukur dengan skor total yang merupakan jumlah tiap skor butir, dengan rumus Pearson Product Moment. Kaidah keputusan:
Jika  thitung >ttabel  berarti valid sebaliknya
        thitung <ttabel  berarti valid sebaliknya
      Uji Reabilitas
Analisisi reabilitas, yang digunakan untuk mengetahui kemantapan, ketetapan dan homogenitas dari kuesioner yang digunakan. Keandalan yang rendah akan mencerminkan ketidak konsistenan responden dalam menjawab pertanyaan. Dalam menguji reliabilitas ini, metode yang digunakan perhitungan yang akan dipakai adalah metode koefisien Alpha Cronbach, rumus dari Alpha Cronbach adalah sebagi berikut:
α = ¯ k. r
¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯¯
I + (k – I ).r¯
Dimana :
α    = koefisien reliabilitas Alpha Cronbach
k    = jumlah variabel manifest yang memebentuk variabel item
r¯   = rata-rata kolerasi antar variabel manifest
nilai koefisien reliabilitas berkisar antara 0 -1. Semakin tinggi nilai koefisien reliabilitas yang dianggap baik adalah lebih besar dari 0,6

Selasa, 16 Februari 2016

Operasional Variabel



Untuk memudahkan suatu penelitian berangkat dan bermuara pada suatu tujuan yang jelas, maka penelitian itu di simplifikasi kedalam bangunan variabel (Ferdinand, 2006). Variabel adalah suatu atribut atau sifat dari obyek atau kegiatan yang memiliki variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulanya (Sugiyono, 2001).
Berkaitan dengan penelitian ini, variabel penelitian akan terbagi menjadi dua yang terdiri dari variabel dependen dan variabel independen, akan dijelaskan sebagai berikut:
1. Variabel dependen (Y) adalah variabel yang menjadi pusat perhatian peneliti. Dalam script analysis, nuansa sebuah masalah tercermin dalam variabel dependen. Hakekat sebuah masalah (the nature of a problem) mudah terlihat dengan mengenali berbagai variabel dependen yang digunakan dalam sebuah model. Variabilitas dari atau atas faktor inilahyang berusaha untuk dijelaskan oleh seorang peneliti (Ferdinand, 2006).
2. Variabel independen (X) adalah variabel yang mempengaruhi variabel dependen. Baik yang pengaruhnya positif maupun yang pengaruhnya negatif. Dalam script analysis, akan terlihat bahwa variabel yang menjelaskan mengenai jalan atau cara sebuah masalah dipecahkan adalah tidak lain variabel-variabel independen (Ferdinand, 2006).

Hedonic Shopping Motives



Shopping (berbelanja) merupakan aktivitas pergi ke sebuah toko offline atau online untuk membeli sesuatu. Kegiatan berbelanja meliputi dua aktivitas, yaitu aktivitas memperoleh informasi tentang ketersediaan pilihan, karakteristik, dan detail transaksi di sebuah toko ritel dan aktivitas memperoleh barang dan jasa Ibrahim & Ng, (Ilmalana 2012). Dalam berbelanja, konsumen tidak hanya tertarik pada kualitas dan harga dari suatu produk tetapi juga tertarik pada kualitas sebuah toko.
Nilai hedonic konsumsi merupakan pengalaman konsumsi yang berhubungan dengan perasaan, fantasi, kesenangan, dan panca indra, dimana pengalaman tersebut mempengaruhi emosi seseorang Hirsman and Holbrook dalam Johnstone and Conroy, dalam Darmianti (2013) sedangkan menurut Suhartanto (2010), motif belanja hedonic merupakan dorongan berbelanja untuk mencari kesenangan. Ketika konsumen berbelanja dengan dilandasi oleh motif hedonic, konsumen cendrung berorientasi pada kesenangan, fantasi dan hiburan yang bisa didapatkannya melalui pengalaman berbelanja Park et al. dalam Darmianti (2010) menyatakan bahwa konsumsi hedonic adalah salah satu segi perilaku konsumen yang berhubungan dengan aspek multi-sensori, Fantasi dan emosi dalam pengalaman yang dikendalikan oleh berbagai manfaat seperti kesenangan dalam mengunakan produk.
Motivasi berbelanja diperkirakan menjadi salah satu penyebab dari keberagaman hasil tersebut. Hal ini dapat disebabkan beberapa faktor. Pertama, motivasi berbelanja yang dibedakan menjadi dua yaitu motivasi berbelanja utilitarian dan motivasi berbelanja hedonic. Perilaku berbelanja utilitarian merupakan karakteristik yang berkenaan dengan tugas individu yang harus dipenuhi, berorientasi produk, rasional, dan di dorong karena adanya motivasi ekstrinsik. Sedangkan perilaku berbelanja hedonic lebih mengarah pada rekreasi, kesenangan, intrinsik, dan stimulasi yang berorientasi motivasi. Kedua, orientasi berbelanja internal yang meliputi motivasi berbelanja dan nilai personal yang diperkirakan lebih difokuskan pada konsumen untuk berlangganan terhadap suatu toko tertentu. Ketiga, aspek aktivitas dan nilai berbelanja yang terfokus pada utilitarian dan hedonic. Keempat, nilai berbelanja konsumen dalam konsep retail brand yang dibedakan menjadi nilai utilitarian dan nilai hedonic. Kelima, nilai berbelanja hedonic yang diprediksikan mengarah pada behavioral loyalty (Ayu, 2009). Menurut Utami (2010) motivasi hedonis adalah motivasi konsumen untuk berbelanja karena berbelanja merupakan suatu kesenangan tersendiri sehingga tidak memperhatikan manfaat dari produk yang dibeli.

Kamis, 04 Februari 2016

Pemasaran Online



Menurut Kotler dan Keller (2011:508), Online Marketing is efforts to market products and services and build customer relationships over the Internet, yang dapat diartikan sebagai usaha-usaha untuk memasarkan produk dan jasa dan membangun hubungan dengan pelanggan melalui media Internet. Kemudian Kotler dan Keller (2011:508) juga menjelaskan, “internet is a vast public web of computer networks that connects users of all types around the world to each other and an amazingly large information repository, yang maknanya adalah sebuah jaringan publik yang luas yang terdiri dari jaringan-jaringan komputer yang menghubungkan pengguna-pengguna dari seluruh dunia satu sama lain dan merupakan wadah informasi yang sangat banyak. Menurut beberapa ahli IT secara umum Internet merupakan jaringan komputer yang saling berinteraksi dengan menggunakan suatu standar protocol Transmission Control Protocol/Internet Protocol Suite (TCP/IP). Internet sebagai media interaksi merupakan singkatan dari interconnection-networking dan akhirnya dipanggil internet saja. Sejarah internet yang panjang memang mengubah nasib banyak masyarakat dunia. Internet mengubah berbagai pola kehidupan dan pekerjaan di berbagai belahan dunia. Banyak sekali manfaatnya untuk kehidupan dan membantu kehidupan manusia yang sangat canggih dan modern. Begitu banyak penemuan seperti perangkat lunak komputer yang terus dikembangkan dan berbasis online tidak hanya standalone.
Pemasaran online yang lebih dikenal dengan istilah e-commerce adalah istilah yang menggambarkan penjualan barang dan jasa melalui internet. Di Indonesia, penetrasi pengguna internet mencapai 45 juta pengguna aktif, e- commerce di tanah air tampaknya mulai menggeliat. Riset Markplus Insight menunjukkan, dari orang yang pernah membeli online, transaksi dilakukan di situs blog kaskus dan facebook. Jenis barang yang dibeli secara online adalah pakaian dan komputer. Cara pembayaran yang paling mereka sukai adalah pembayaran transfer melalui ATM atau COD (Cash on Delivery) dan keamanan adalah salah satu alasannya.
Pemasaran melalui media internet memungkinkan suatu usaha untuk menjalankan praktek self-service. Hal ini berarti suatu usaha dapat memberikan pelayanan kepada pelanggan tanpa membutuhkan tenaga SDM, mengurangi fasilitas dan layanan melalui telepon. Pemasaran online secara simultan, mempengaruhi pemrosesan informasi periklanan oleh para pengguna internet. Pemrosesan informasi periklanan oleh pengguna internet mempengaruhi keputusan pembelian. Program periklanan di internet dan pemasaran melalui online secara simultan juga berpengaruh secara langsung terhadap keputusan pembelian, serta secara tidak langsung melalui pemrosesan informasi. Pengukuran pelaksanaan program periklanan di internet, pemasaran online, pemrosesan informasi periklanan serta keputusan pembelian melalui Internet dalam model ini diukur dari persepsi konsumen.